Taman kantor pemkab klaten, Woles sejenak menikmati pendar lampu di jantung kota melati

July 24, 2019 1 Comment
Ada pemandangan yang berbeda saat melintas depan pendopo kabupaten Klaten beberapa waktu terakhir. Tiang lampu “Ting” masih gress nampak berderet-deret baris rapi seperti kompi pasukan paskibraka. Pendar lampunya yang berwarna putih mulai menyala saat senja muntuk-muntuk keharibaan cakrawala. 


Senja di taman pemkab klaten.
Suasana nampak tambah riuh semarak dengan pemandangan aktifitas beberapa muda-mudi. Sepertinya mereka tengah asyik memainkan kamera handphonenya untuk swafoto. 

Ceklek-ceklik, begitu kira-kira bunyinya. nampak dari mereka asyik ha hi hi terdengar sembari duduk-duduk di kursi cor made in batur jaya ceper klaten. Ceritanya di tempat ini gayeng regeng saban sore hampir setiap harinya.

Tempat yang dimaksud adalah taman trotoar halaman Pemkab. Klaten. Trotoar yang dalam beberapa tahun yang lalu masih biasa saja dan lugu, sejak akhir tahun 2018 lalu tengah disolek, di make over  untuk menjadi semacam taman padestrian. Konon menurut irah-irah Bu Bupati  pedestrian di ujung pencit jalan pemuda selatan ini berkonsep taman bunga “jadoel” beraneka warna.  Nah ndilalah sekarang  ini tengah moncer-moncernya tempat ini. Tak  ayal langi sejak awal tahun lalu makin jamak saja menghiasi laman foto sosmed kawula muda klaten dengan latar taman Pemkab. Klaten. Ceritanya spot intagramable bin viral. 
Hla kok yo saya ikut-ikutan kepo juga akhirnya.

Numpang nguping yak... 

Setelah sekian purnama Cuma tengak tengok, plengas-plengos saat melintasi ujung jalan pemuda selatan, akhirnya pekan lalu kesampaian juga icip-icip kursi legendaris di bawah tiang lampu “Ting” kencar-kencar. Maksudnya menyambangi taman pedestrian halaman pemkab klaten om bro..

Tempatnya lumayan syahdu, lampu “ting” yang jumlahnya puluhan nampak sumeblak. Ini membuat ikon baru warga klaten  tersebut  terlihat berbeda dibandingkan waktu sebelumnya. 

Nah kalau begini kan titah slogan Klaten bersinar kan nyata benar adanya..byar byar...


Mengunjungi Rumah Pohon Banyu Anyep Jatiyoso Karanganyar, Rihlah ke lembah Lawu yang dingin

May 11, 2019 2 Comments

Terletak di lereng gunung Lawu sisi selatan, rumah pohon Banyu Anyep Jatiyoso sempat menjadi primadona penikmat wisata spot instagenik di soloraya beberapa tahun yang lalu. Seperti namanya yaitu rumah pohon, tentu tempat ini bisa ditebak berupa semacam tempat gardu pandang berbentuk papan yang nempel dipohon. 




Nama Banyu Anyep saat ini mungkin tak setenar Tawangmangu, kebun teh kemuning dan sederet wisata sejuk dan dingin di wilayah kabupaten karanganyar. namun bagi kalian yang ingin menikmati moment yang berbeda tempat ini layak kok untuk di jadikan tujuan ngetrip di akhir pekan.
Terletak di dukuh Punthuksari kelurahan Wonorejo, kecamatan Jatiyoso, karanganyar, rumah pohon Banyu Anyep ternyata menyuguhkan pemandangan dan rekam suasana yang tiada duanya.








Suasana adem berlatar bentang alam dari lembah bukit sekipan di kaki gunung Lawu, memang menghadirkan suasana asri dan menenangkan. spot foto yang unik serta beragam membuat rumah pohon Banyu Anyep moncer menjadi tempat alternatif wisata kekinian baru di Karanganyar. 


Rupa ragam spot foto di tempat ini ada banyak jenisnya. seperti papan menggantung di pohon pinus atau lazim disebut rumah pohon, gardu pandang beraneka bentuk seperti cinta, bintang, kapal, dan gapura dan masih banyak lagi. Latar spot foto tersebut menjadikan jepretan foto akan terbingkai super cantik dan keceh pastinya. 







Berbeda dengan tempat wisata bergenre foto selfie ditempat lain yang serupa, di rumah pohon Banyu Anyep aneka spot tersebut bisa dimanfaatkan pengunjung sepuasnya dengan gratis tanpa dipungut biaya. yang penting kalau ada antrian teposeliro ya sob, hehe.





Lokasi tempat ini berada di ketinggian 1500 mdpl, jadi bisa kebayangkan suejuk udaranya, di lembah lereng gunung lawu lagi. Cless deh.

Jika beruntung,  berkunjung kesini saat sedang tidak terterpa kabut, kota karanganyar hingga solo dapat terlihat dengan indahnya dari salah satu gardu pandang disini lho. Keren..

Tak hanya untuk spot foto saja tempat ini, suasana bentang alam hutan Wono makmur di sisi timur dan selatan terasa benar menyeret jiwa meresapi ketenangan serta kesenduan gunung Lawu.






Ada beberapa tempat foto sejenis ini disini. 


Rute ke rumah pohon banyu anyep
Sebenarnya untuk menuju ke tempat wisata ini tidak terlalu sulit. Apalagi di google map juga sudah eksis dengan syantiknya. Beberapa plang penunjuk arah juga sudah terpasang di beberapa titik. Namun jika sudah bingung arah, bisa lain ceritanya. Saran bijak sih bisa tanya langsung ke penduduk sekitar preend..


Niat hati hanya bertanya, eh malah diantar sampai lokasi. Makasih nggih pak...
Nah gambaran rute ke rumah pohon banyu anyep sebagai berikut :
Dari arah Solo, Sukoharjo, atau Klaten jika menuju Rumah Pohon Banyu Anyep silakan lewat arah Tawangmngu melalui jalur Jl Solo – Tawangmangu. terus saja hingga sampai Jalan Lawu. 

Setelah sampai di pertigaan Jawa Dwipa dan Agrosmaga 83 silakan ambil kanan menuju Desa Wonorejo. Dari sini sudah ada beberapa plang penunjuk ke Rumah pohon. Waktu tempuh dari Solo menuju Rumah pohon Banyu Anyep sekitar 1 jam naik motor dengan santai.


Sama halnya berkunjung ke tempat wisata di pegunungan, alangkah baiknya dipersiapkan piranti kendaraan dengan baik. Seperti rem, kondisi mesin yang baik dan lampu penerangan yang memadai. Jika "terpaksa" bingung selama perjalanan, jangan sungkan bertanya ke penduduk sekitar ya.. 

Salam clesspleng





Mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, Mensaksi Kereta Uap Tua Mengasapi Kota Palagan

April 26, 2019 1 Comment
Kemasyuran nama kota Palagan yang tersemat untuk Ambarawa menggeregetkan rasa penasaran. adalah museum kereta api Ambarawa yang membuat saya tergelitik untuk sedikit menjumput ceritanya. museum ini dulunya adalah sebuah stasiun kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda yang awalnya diperuntukkan untuk memperlancar distribusi logistik militer dan hasil perkebunan seperti kopi, tembakau dari wilayah vorstenlanden dan sekitarnya untuk diangkut ke semarang.


mulai beroperasi sejak 21 mei 1873 stasiun ambarawa atau willem I lambat laun semakin berkembang dan menjadi stasiun kereta kategori stasiun kelas I. artinya stasiun ini juga melayani penumpang komersial. akan tetapi hanya terbatas khusus untuk golongan eropa dan pembesar pribumi. 

tertopangnya suplai logistik untuk kebutuhan militer sejak beroperasinya stasiun ini membuat denyut kekuatan militer garnisun benteng Willem I semakin kuat. selain itu lokasinya yang strategis tepat diantara wilayah vorstenlanden dan semarang membuat pergerakan kekuatan militer semakin efektif. Willem I akhirnya juga menjadi nama stasiun kereta api ini sejak saat itu.  



Liat jam seperti ini?pasti di stasiun kereta api

saat usia operasional genap seabad seolah menjadi titik ironi akhir samar stasiun ini. kisaran tahun 1976 stasiun Ambarawa di vonis mati oleh pemerintah orde baru waktu itu. Selanjutnya stasiun ini beralih fungsi menjadi persemayaman akhir kereta api tua sisa masa kolonial yang purna tugas. 


ini terjadi karena jalur kereta api rute Yogyakarta-Magelang-Secang-Ambarawa jalurnya hancur dan tak memungkinkan lagi untuk dilalui. petaka ini akibat bencana erupsi gunung merapi tahun 1972. selain karena faktor alam, jenis rel kereta yang dipergunakan rute ini sudah tidak familiar dengan jenis kereta api modern. praktis sejak saat itu stasiun Ambarawa menjadi terisolir dari rute jalur kereta.



stasiun ambarawa tampak masih kokoh

menuju tempat ini butuh waktu sekitar dua jam perjalanan dari rumah di klaten dengan sepeda motor. sekitar pukul 13.00 sepeda motor yang kami tumpangi bertiga sampai juga diparkiran museum kereta api terlengkap di Indonesia bahkan se-asia tenggara ini. mendung yang menggumpal di langit-langit Ambarawa medikit mengkawatiri saat saya melangkah ke loket pintu masuk. 



langit mendung di atas museum ambarawa

oiya tiket masuk ke museum ambarawa sebesar Rp. 10.000 untuk setiap pengunjung. sedangkan tiket untuk naik kereta api wisata reguler adalah 50.000 untuk rute ambarawa-tuntang. lokomotif diesel vintage kereta wisata ini akan membawa para pelancong dari stasiun ambara menuju Bedono tuntang dengan melewati jalur legendarisnya disekujur bibir rowo pening. sayang siang itu pemberangkatan kereta api wisata untuk slot siang dibatalkan karena kereta api mengalami trouble dipagi harinya. tak apalah.. 

foto bersama pekerja perkeretaapian semarang tahun 1918

Sesaat setelah dipersilahkan petugas untuk memasuki museum, lorong jalan yang panjang langsung menyambut kami. lantai tegel putih pucat dengan tiang-tiang baja yang menyangga selasar seperti menghanyutkan ke mesin waktu. 


Lorong pintu masuk ke stasiun Ambarawa 

rasanya seperti sedang berjalan memasuki bangsal-bangsal rumah sakit tua masa kolonial. disisi kiri berderet lokomotif kereta uap tua mayoritas warna hitam legam mematung diam. 



deretan lokomotif tua

konon di museum amabarawa ini ada 21 kereta uap dan diesel yang menjadi koleksinya. tiga diantaranya masih beroperasi untuk wisata. satu lokomotif deisel vintage dan dua lainya loko uap buatan Hannoversche Maschinenbau Jerman dan Maschinenfabriek Esslingen Swiss. 


Pintu grendel jumbo

setelah masuk komplek museum stasiun bangunan pertama yang kami jumpai adalah gedung loket tiket kereta. bangunan bergaya kolonial dengan pintu geser grendel besar nampak masih sangat terawat. dahulu tempat ini dijadikan sebagai loket penjualan tiket di stasiun ambarawa. pernik-pernik peninggalan kerja tiketing stasiun nampak tersusun rapi dalam meja-meja koleksi. mesin ketik tua, alat hitung yang biasa dibawa controler mador kereta,hingga mesin pencetak tiket mematung tak bergeming melompati jaman. 


sayapun melanjutkan langkah kaki keselatan, tempat dimana nampak rumah kayu kusam dengan atap seng dan genting yang sudah rapuh. rumah-rumah kecil ini dahulu adalah halte kereta api. hampir semua halte tersebut dibuat oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (N.I.S.M) sebuah perusahaan partikelir yang menjadi operator kereta api di jawa pada tahun 1922. halte-halte ini dulunya adalah tempat pemberhentian kereta api feeder yang melayani rute dari stasiun Purwosari Solo menuju stasiun Wonogiri.

Halte kereta Kronelan

Halte Tekaran
Selain sebagai tempat naik dan turunya penumpang kereta api, dari halte ini tiket kereta bisa dibeli secara langsung. sekilas bentuk Halte ini mengingatkan saya pada masa kanak saya dulu, yaitu loket penjualan tiket pertunjukan Toenil dan wayang orang di dukuh Kerten,  Sabanglor, Trucuk.  


ini dia loketnya..ada yang pernah ke pasar malem?

slot kunci grendel

setelah beberapa saat istirahat mendinginkan keringat, saya melangkahkan kaki menuju arah timur, tepatnya bangunan utama stasiun Ambarawa. bangunan megah berangka baja tua yang membentang mensingup magis aroma kolonial. baja kerangka stasiun yang didatangkan langsung dari pabrik pengecoran baja di amsterdam ini nampak masih kokoh menggilas waktu. 


lantau ubin bergalzur kotak tahu

lantai bertegel kuning kunir dengan motif tekstur kotak-kotak kecil nampak masih mengkilap menghampar seisi teras stasiun. rupanya tegel atau ubin ini pesanan khusus dari sebuah pabrik di Maastricth Belanda. awet juga hingga sampai sekarang, bahkan  masih keset rasanya. 
Alas kaki pun saya tanggalkan untuk sekedar membersamai telapak kaki menderitkan lantai tegel. 


Anginpun menghembus lebih rapat, rintik hujan dari kalut mendung yang sedari tadi menggantung di langit Ambarawa turun begitu lebatnya. 
tetes hujan yang menderas membasahi kanopi stasiun membuat suara kemrengseng. pengunjungpun nampak larut dalam obrolan masing-masing tenggelam membuang waktu di sudut-sudut stasiun. 


saat hujan mensyahdu  


berhubung sore itu ada rombongan sebuah BUMN yang sedang booking sewa kereta wisata Lokomotif uap, setiap sudup stasiun padat dengan pengunjung. ada sedikit kelegaan bisa melihat kereta uap BB B2502 akan menunaikan tugas mengantar penumpang untuk relaasi Ambarawa-Bedono PP. Rute ini akan melewati pinggiran rawa pening dengan hamparan sawahnya yang kimplah-kimplah.


Hujan yang tak kunjung reda membuat waktu tunggu semakin terasa lama. dari pengeras suara stasiun dikabarkan bahwa jadwal keberangkatan kereta wisata ada kerterlambatan pemberangkatan. sambil sesekali memfoto beberapa sudut stasiun sayapun mencoba mendekat ke bangunan tengah di stasiun Ambarawa.



kereta Ambarawa yang ngehit di IG



ini juga



Perkakas di dalam gerbong kereta, entah fungsinya apa


ruang tunggu utama stasiun ambarawa

ada setidaknya dua bangunan utama ditengah stasiun sebagai ruang tunggu penumpang. ruang tunggu khusus penumpang kulit putih eropa, dan ruang tunggu penumpang non eropa. dari kedua bangunan tersebut nampak jelas pembedaan standard ganda yang diperlakukan oleh penguasa kolonial dalam melayani penumpang. 



ruang tunggu khusus penumpang eropa tampak jauh lebih mewah. warna ubin lantainyapun berbeda. lebih halus dan bermotif. dahulu diruang tunggu ini dilengkapi dengan bar yang menyajikan rupa-rupa jenis minuman mahal seperti wine dan kawan-kawanya yang didatangkan dari Belanda. sedangkan ruang tunggu penumpang non eropa lantainya tak beda dengan lantai diselasar luar stasiun yaitu tegel kuning kunir dengan motif tahu kotak-kotak. sayang sekali saya tak bisa mengabadikan foto didalam ruang ini karena saking banyaknya pengunjung yang duduk-duduk didalam ruang tunggu. 



menunggu itu menjemukan bukan?

Setelah beberapa waktu sesekali terdengar suara menyalak dari terompet katup ketel uap kereta dari kejauhan, artinya pertanda kereta sudah hampir siap. para penumpang carteran kereta itupun nampak mulai beringsut mendekat bibir rel depan pemberhentian kereta. 


Hujan lebat di stasiun ambarawa

Kereta yang ditunggupun akhirnya datang juga saat hujan tinggal menyisakan rintik-rintik. dari kejauhan Lokomotif uap B2502 hitam nampak mengepulkan asap dari cerobongnya. mesin buatan Maschinenfabriek Esslingen Swiss ini berjalan mendayu pelan mendekat ke pemberhentian stasiun Ambarawa yang sedari tadi dinanti dengan gelisah para penumpangnya. 


Setelah lokomotif berbalik arah dan kembali ke depan stasiun, para penumpangpun mulai beringsut memenuhi bangku kursi gerbong dengan riuhnya. oiya tempat membalik arah lokomotif disebut turntable atau meja putar. berbentuk rangka bundar datar dari baja. tempat inilah yang membelokan lokomotif serta gerbong untuk berbalik arah.

Turntable, meja rel pembelok arah kereta api



gerbong belakang

Roda kereta mulain bergetar dan bergerak perlahan, katup ketel uap beberapa kali terbuka. nampak kepulan asap putih membumbung seiring dengan keluarnya suara khasnya ...Thuuuut...thuuut thuuuut, 
Besi hitam itupun membawa gerbong kereta menjauh, membawa lengkap semua nostalgianya membelah hujan rintik melewati pinggir rawa pening yang teduh. 


Hari ini kembali rindu langit Ambarawa tunai sudah, kepulan asap Lokomotif tua dengan tersesapi seabrek cerita dari jamanya. Sedangkan stasiun Ambarawa kembali menyepi, memangu menunggu pengunjungnya kembali. 

saat ditinggal pengunjung stasiun ini kembali mensunyi sendiri

Awan sisa mendung pun masih tertanggal di langit Ambarawa yang semakin sore, artinya sudah saatnya bergegas pulang. namun sebelum meninggalkan museum mampir sebentar untuk membeli bekal buah tangan berupa peyek ikan khas rawa pening yang dijajakan pedagang diluar museum. 




Adakah yang punya cerita tentang museum Ambarawa?


Featured Post

Nostalgia Sepeda Jengki Phoenix, sepeda China yang dimiliki hampir seluruh keluarga Indonesia

                    Pertengahan tahun 1965 Presiden pertama RI Soekarno pernah menumpahkan kekesalanya pada budaya barat yang mulai tersemai...

Artikel lainya gan..